Tuesday, December 25, 2018

MANGGIS ( Garcinia mangostana L.)



MANGGIS (Garcinia mangostana L.)
TANAMAN BUAH UNTUK KONSERVASI TANAH
MANGGIS (Garcinia mangostana L.) pada umumnya dikenal sebagai tanaman budidaya, walaupun kadang ada laporan mengenai spesies liarnya yang berada di Malaysia. Jenis ini mirip sekali denganGarcinia hombroniana Pierre (Kepulauan Nikobar) dan dengan G. malaccensis T. Anderson, yang berasal dari Malaysia. Manggis diduga merupakan hasil silangan alotetraploid dari kedua jenis tersebut.
Asal-usul manggis diduga berasal dari Asia Tenggara, mungkin dari Indonesia (Pulau Kalimantan). Tanaman manggis menyebar ke timur sampai ke Papua Nugini dan Kepulauan Mindanau (Filipina), dan ke utara melalui Semenanjung Malaysia menyebar terus ke Thailand bagian selatan, Myanmar, Vietnam, dan Kamboja. Tanaman manggis telah dikenal oleh para peneliti dari Barat sejak awal tahun 1631. Tanaman ini dijumpai tumbuh liar pada kisaran jenis tanah dan lokasi yang cukup luas.
Penanaman  pada skala yang lebih luas terjadi secara bersamaan dengan meluasnya permukiman pada awal penyebaran penduduk Asia Tenggara. Para pelancong, penjelajah, atau kolektor tanaman Eropa terdahulu seperti Mjobery (Swedia), Fairchild (Inggris), Laurent Garcin (Perancis), dan Popenoe (Amerika) telah mendiskripsikan tanaman manggis. Hanya dalam dua abad terakhir tanaman manggis tersebar ke negara-negara tropik lainnya, seperti Srilangka, India bagian selatan, Amerika Tengah, Brazil, dan Queesland (Australia). Penamaan ilmiah Garcinia mangostana kepada manggis diberikan sesuai dengan nama penjelajah dari Perancis yang bernama Laurent Garcin (1683–1751) dan telah dibudidayakan untuk waktu yang lama di berbagai tempat di daerah tropik basah.
Pada awalnya dikenal dengan nama Mangostana Garcinia Gaertner, termasuk ke dalam famili Guttiferae yang memiliki 35 genera dan lebih dari 800 spesies yang berasal dari daerah tropik. Di antaranya sembilan genera dengan spesies yang merupakan pohon buah-buahan. Lima genera dengan sekitar 50 spesies dari famili ini berasal di kawasan Asia Tenggara. Garcinia dianggap satu tipe genus dalam famili ini yang juga termasuk Mammea. Mammea merupakan genus dengan yang mempunyai nilai ekonomi penting yang dikenal dengan mammy apple atau mammy, M. Americana. Menurut Cox (1976), genus Garcinia merupakan genus yang terbesar (lebih dari 400 spesies), 40 spesies dapat dimakan dan banyak dijumpai di Pulau Kalimantan.
Di Asia Tenggara, manggis dikenal dengan banyak nama, seperti manggis di Indonesia dan Malaysia, kadang dikenal nama setor, mesetor, atau sementah di Malaysia, manggustan atau manggis di Filipina,mongkhul di Kamboja, mangkhud di Laos, dodol atau mangkhut di Thailand, dan cay mang cut di Vietnam, mangustai di Tamil. Di Prancis disebut mangostanaier, mangouste, atau mangostier, di Spanyol disebut mangostan, di Jerman mangostane, di Belanda mangoestan atau manggis, sedangkan di Portugis dikenal dengan mangosta atau mangusta.
Manggis merupakan salah satu tanaman buah tropika yang pertumbuhannya paling lambat, tetapi umurnya juga paling panjang. Tanaman yang berasal dari biji umumnya membutuhkan 10 – 15 tahun untuk mulai berbuah. Tingginya mencapai 10 – 25 meter dengan ukuran kanopi sedang serta tajuk yang rindang berbentuk piramida. Diameter batang 25 – 35 cm dan kulit batang kayu biasanya berwarna cokelat gelap atau hampir hitam, kasar dan cenderung mengkelupas. Getah manggis berwarna kuning (getah kuning) atau resin ada pada semua jaringan utama tanaman.
Sistem perakaran pada manggis mudah patah, lambat tumbuh, dan mudah terganggu karena tidak dijumpai akar rambut pada akar utama maupun akar lateral. Bukti ini memberikan indikasi yang kuat bahwa awal mulanya akar memiliki sifat yang sama dengan akar dari benih yang ditumbuhkan di dalam kultur air, tetapi kurang dapat berfungsi jika ditumbuhkan dalam medium pot yang padat.
Letak daun berhadapan, merupakan daun sederhana dengan tangkai daun pendek yang berhubungan dengan tunas, panjang tangkai daun 1,5 – 2 cm dengan helaian daun berbentuk bulat telur, bulat panjang atau elip dengan panjang 15 – 25 cm x lebar 7 – 13 cm mengkilap, tebal dan kaku, ujung daun meruncing (acuminate) dan licin (glabrous).
Daun-daun dapat bertahan sampai beberapa tahun dengan daun-daun baru pada hampir semua cabang yang dihasilkan dari trubus-trubus baru yang terjadi satu atau dua kali setahun. Daun-daun baru berwarna agak merah muda yang dapat berubah menjadi hijau cerah, tetapi perubahan warna ini hanya terjadi dalam periode yang singkat dan segera menjadi hijau gelap setelah daun-daun menjadi dewasa.
Bunganya bersifat uniseksual dioecious (berumah dua), akan tetapi hanya bunga betina yang dapat dijumpai, sedangkan bunga jantan tidak berkembang sempurna (rudimenter}, yaitu tumbuh kecil kemudian mengering dan tidak dapat berfungsi. Bunga betina terdapat pada pucuk ranting muda dengan diameter 5 – 6 cm, pedikelnya pendek, tebal dan panjang 1,8 – 2 cm terletak pada dasar bunga.
Bunga memiliki empat sepal dan empat petal dengan tangkai bunga pendek dan tebal berwarna merah kekuning-kuningan. Bunganya tidak tahan lama membuka pada sore hari dan petalnya segera jatuh setelah itu.
Buah manggis dihasilkan secara partenogenesis (tanpa penyerbukan). Buah partenokarpi biasanya berbentuk bundar, berdaging lunak saat hampir masak, pipih pada bagian dasarnya dimana bagian bawahnya terdapat petal yang tebal dan rongga-rongga stigma, sisa rongga stigma ini tetap tinggal pada ujung buahnya. Buah berbentuk bulat atau agak pipih dan relatif kecil dengan diameter 3,5-8 cm. Berat buah bervariasi 75 – 150 g tergantung pada umur pohon dan daerah geografisnya. Kulit buah mengandung getah kuning yang terasa pahit.
Jika buah muda dilukai maka getah kuning akan menetes keluar. Kulit buah tebalnya 0,8–1 cm berwarna keungu-unguan biasanya mengandung cairan kekuning-kuningan yang rasanya pahit dan kulit buahnya mengandung tanin dan senyawa berbentuk kristal yang disebut mangostin. Pada buah yang matang struktur kulit yang keras merupakan pelindung yang sangat baik bagi daging buah yang lembut dan dapat dimakan serta memudahkan pengepakan dan pengangkutan.
Buah manggis mengandung 2–3 biji yang berkembang sempurna. Segmen-segmen umumnya berukuran tidak sama dan biasanya 1 –2 segmen besar yang mengandung biji. Daging buah yang mudah dipisahkan dari kulit buah terdiri dari sari buah, agak asam, rasanya enak dan sedikit beraroma. Biji-biji besar berbentuk pipih berwarna ungu gelap atau cokelat tertutup oleh serat lunak yang menyebar sampai kedalam daging buah.
Biji manggis merupakan biji apomik yang terbentuk dari sel-sel nuselus pada buah partenokarpi. Biji berwarna coklat dengan panjang 2 – 2,5 cm, lebar 1,5 – 2,0 cm dan tebalnya antara 0,7 – 1,2 cm. Biji diselimuti oleh aril yang berwarna putih, empuk dan mengandung sari buah dengan aril yang transfaran. Penampakan embrio tidak jelas mengenai lokasi plumula dan radikel, dari pemeriksaan menunjukkan kemungkinan adanya perluasan titik tumbuh di sepanjang biji. Berat biji bervariasi antara 0,1 – 2,2 gram dengan rata-rata 1,0 – 1,6 gram.***

budidaya jamur tiram


Jamur tiram merupakan salah satu produk unggulan dari sektor kehutanan, yang menjadi primadona kelompok tani hutan. Jamur Tiram ini sudah banyak di budidayakan oleh petani, melalui bimbingan dan pendampingan dari Penyuluh Kehutanan.
Media pertumbuhan Jamur Tiram, berasal dari limbah industri pengolahan kayu sengon. Serbuk gergaji ini di olah dan di modifikasi menjadi media tanam berupa BAGLOG. Dari sinilah awal dari budidaya jamur Tiram.

Sebelum memulai budi daya jamur tiram, alangkah baiknya simak dulu hal-hal teknis yang berkaitan dengan seluk beluk jamur tiram, agar hasil yang di capai sesuai dengan harapan dan impian kita.
Langkah awal yang harus kita persiapkan adalah pembuatan media pertumbuhan jamur. Bahan bahan yang di perlukan adalah Serbuk gergajian, bekatul dan kapur dolomit.
Untuk memperoleh media yang baik, serbuk gergajian harus di ayak terlebih dahulu agar di peroleh serbuk gergajian yang halus dan padat.
Komposisi yang seimbang adalah sebagai berikut serbuk gergajian 100 kg di tambah dengan bekatul sebanyak 15 Kg dan kapur dolomit adalah ½ kg. Bahan bahan tersebut kemudian di aduk sampai rata dan campurkan air secukupnya. Sebagai kontrol timbang adonan dalam baglog. Adonan yang baik beratnya 1,4 s/d 1,45 kg. Kalau lebih dari timbangan tersebut berati kandungan air terlalu banyak dan sebaliknya kalau kurang dari itu adonan perlu di tambahkan air.
Langkah selanjutnya adalah pengomposan media dengan cara di tutup dengan terpal sampai rapat. Proses pengomposan di lakukan 1-2 hari.
Setelah proses pengomposan selesai, media di masukan ke dalam plastik transparan dengan ukuran 18 x 35 cm. Dalam proses ini media harus benar benar padat dengan cara di pukul pukul menggunakan botol.
Proses sterilisasi bertujuan untuk membunuh bakteri bakteri dalam media, dengan cara di kukus dalam wadah yang tertutup selama 8 – 10 jam dengan suhu di atas 100 derajat celsius.
Baglog yang telah di kukus sebaiknya di diamkan dulu selama 1-2 hari sebelum di tanami bibit jamur. Bibit jamur yang di gunakan sebaiknya bibit F2 agar jamur yang di hasilkan bisa besar besar dan pertumbuhanya seragam. Adapun teknik penanaman bibit jamur adalah sebagi berikut : https://youtu.be/_QhOm7Cnh8Y
Setelah baglog di tanami bibit jamur , baglog di simpan dalam ruangan yang bersih dan steril, tujuanya adalah untuk menumbuhkan miselium dalam baglog yang berwarna putih. Pertahankan suhu di ruangan ini pada angka ±  20 0C – 25 0C dengan kelembaban antara 70 % s/d 80 %. Proses inokulasi ini berlangsung selama 25 s/d 30 hari hingga media dalam baglog sudah berwarna putih, penuh dengan miselium jamur.
Baglog di pindahkan ke rumah kumbung setelah miselium tumbuh penuh pada baglog, baglog di tata rapi dalam rak rak yang telah di buat, jangan lupa tutup baglog harus di buka.  sekali lagi pertahankan suhu di ruangan ini pada kisaran 20 0C – 25 0C dengan kelembaban antara 70 % s/d 80 %. Apabila ruangan suhunya lebih tinggi maka perlu di lakukan penyemprotan menggunakan air bersih pada baglog dan pengocoran lantai apabila lantai terbuat dari semen.
Jamur tiram akan mulai tumbuh setelah 10 s/d 20 hari di dalam rumah kumbung, di tandai dengan keluarnya jamur kecil kecil di ujung baglog. Pemanenan jamur tiram di lakukan setelah jamur tumbuh maksimal. Tumbuhnya jamur tiram biasanya tidak serempak, walaupun proses penanaman bibit bersama, ini di karenakan perkembangan miselium pada media tidak sama, ini sangat menguntunkan pagi petani sehingga proses pemanenan bisa  di lakukan setiap hari. Jamur akan tumbuh lagi pada baglog yang sama setelah kurang lebih 25 – 30 hari. Begitu seterusnya.
Dalam budidaya jamur tiram ketelitian kesabaran, keuletan petani sangat menentukan tingkat keberhasilan dalam budidaya. Di samping itu kebersihan rumah kumbung juga di perlukan agar jamur tiram terbebas dari serangan hama danbu   penyakit yang mengganggu budidaya jamur Tiram.
Demikian teknis budidaya jamur tiram yang di laukan  oleh asosiasi petani jamur di  kecamatan talun kabupaten Pekalongan. Semoga bermanfaat.