Thursday, May 5, 2016

MANGGIS (Garcinia mangostana L.) UNTUK KONSERVASI TANAH

MANGGIS (Garcinia mangostana L.)
 UNTUK KONSERVASI TANAH

MANGGIS (Garcinia mangostana L.) pada umumnya dikenal sebagai tanaman budidaya, walaupun kadang ada laporan mengenai spesies liarnya yang berada di Malaysia. Jenis ini mirip sekali denganGarcinia hombroniana Pierre (Kepulauan Nikobar) dan dengan G. malaccensis T. Anderson, yang berasal dari Malaysia. Manggis diduga merupakan hasil silangan alotetraploid dari kedua jenis tersebut.
Asal-usul manggis diduga berasal dari Asia Tenggara, mungkin dari Indonesia (Pulau Kalimantan). Tanaman manggis menyebar ke timur sampai ke Papua Nugini dan Kepulauan Mindanau (Filipina), dan ke utara melalui Semenanjung Malaysia menyebar terus ke Thailand bagian selatan, Myanmar, Vietnam, dan Kamboja. Tanaman manggis telah dikenal oleh para peneliti dari Barat sejak awal tahun 1631. Tanaman ini dijumpai tumbuh liar pada kisaran jenis tanah dan lokasi yang cukup luas.
Penanaman  pada skala yang lebih luas terjadi secara bersamaan dengan meluasnya permukiman pada awal penyebaran penduduk Asia Tenggara. Para pelancong, penjelajah, atau kolektor tanaman Eropa terdahulu seperti Mjobery (Swedia), Fairchild (Inggris), Laurent Garcin (Perancis), dan Popenoe (Amerika) telah mendiskripsikan tanaman manggis. Hanya dalam dua abad terakhir tanaman manggis tersebar ke negara-negara tropik lainnya, seperti Srilangka, India bagian selatan, Amerika Tengah, Brazil, dan Queesland (Australia). Penamaan ilmiah Garcinia mangostana kepada manggis diberikan sesuai dengan nama penjelajah dari Perancis yang bernama Laurent Garcin (1683–1751) dan telah dibudidayakan untuk waktu yang lama di berbagai tempat di daerah tropik basah.
Pada awalnya dikenal dengan nama Mangostana Garcinia Gaertner, termasuk ke dalam famili Guttiferae yang memiliki 35 genera dan lebih dari 800 spesies yang berasal dari daerah tropik. Di antaranya sembilan genera dengan spesies yang merupakan pohon buah-buahan. Lima genera dengan sekitar 50 spesies dari famili ini berasal di kawasan Asia Tenggara. Garcinia dianggap satu tipe genus dalam famili ini yang juga termasuk Mammea. Mammea merupakan genus dengan yang mempunyai nilai ekonomi penting yang dikenal dengan mammy apple atau mammy, M. Americana. Menurut Cox (1976), genus Garcinia merupakan genus yang terbesar (lebih dari 400 spesies), 40 spesies dapat dimakan dan banyak dijumpai di Pulau Kalimantan.
Di Asia Tenggara, manggis dikenal dengan banyak nama, seperti manggis di Indonesia dan Malaysia, kadang dikenal nama setor, mesetor, atau sementah di Malaysia, manggustan atau manggis di Filipina,mongkhul di Kamboja, mangkhud di Laos, dodol atau mangkhut di Thailand, dan cay mang cut di Vietnam, mangustai di Tamil. Di Prancis disebut mangostanaier, mangouste, atau mangostier, di Spanyol disebut mangostan, di Jerman mangostane, di Belanda mangoestan atau manggis, sedangkan di Portugis dikenal dengan mangosta atau mangusta.
Manggis merupakan salah satu tanaman buah tropika yang pertumbuhannya paling lambat, tetapi umurnya juga paling panjang. Tanaman yang berasal dari biji umumnya membutuhkan 10 – 15 tahun untuk mulai berbuah. Tingginya mencapai 10 – 25 meter dengan ukuran kanopi sedang serta tajuk yang rindang berbentuk piramida. Diameter batang 25 – 35 cm dan kulit batang kayu biasanya berwarna cokelat gelap atau hampir hitam, kasar dan cenderung mengkelupas. Getah manggis berwarna kuning (getah kuning) atau resin ada pada semua jaringan utama tanaman.
Sistem perakaran pada manggis mudah patah, lambat tumbuh, dan mudah terganggu karena tidak dijumpai akar rambut pada akar utama maupun akar lateral. Bukti ini memberikan indikasi yang kuat bahwa awal mulanya akar memiliki sifat yang sama dengan akar dari benih yang ditumbuhkan di dalam kultur air, tetapi kurang dapat berfungsi jika ditumbuhkan dalam medium pot yang padat.
Letak daun berhadapan, merupakan daun sederhana dengan tangkai daun pendek yang berhubungan dengan tunas, panjang tangkai daun 1,5 – 2 cm dengan helaian daun berbentuk bulat telur, bulat panjang atau elip dengan panjang 15 – 25 cm x lebar 7 – 13 cm mengkilap, tebal dan kaku, ujung daun meruncing (acuminate) dan licin (glabrous).
Daun-daun dapat bertahan sampai beberapa tahun dengan daun-daun baru pada hampir semua cabang yang dihasilkan dari trubus-trubus baru yang terjadi satu atau dua kali setahun. Daun-daun baru berwarna agak merah muda yang dapat berubah menjadi hijau cerah, tetapi perubahan warna ini hanya terjadi dalam periode yang singkat dan segera menjadi hijau gelap setelah daun-daun menjadi dewasa.
Bunganya bersifat uniseksual dioecious (berumah dua), akan tetapi hanya bunga betina yang dapat dijumpai, sedangkan bunga jantan tidak berkembang sempurna (rudimenter}, yaitu tumbuh kecil kemudian mengering dan tidak dapat berfungsi. Bunga betina terdapat pada pucuk ranting muda dengan diameter 5 – 6 cm, pedikelnya pendek, tebal dan panjang 1,8 – 2 cm terletak pada dasar bunga.
Bunga memiliki empat sepal dan empat petal dengan tangkai bunga pendek dan tebal berwarna merah kekuning-kuningan. Bunganya tidak tahan lama membuka pada sore hari dan petalnya segera jatuh setelah itu.
Buah manggis dihasilkan secara partenogenesis (tanpa penyerbukan). Buah partenokarpi biasanya berbentuk bundar, berdaging lunak saat hampir masak, pipih pada bagian dasarnya dimana bagian bawahnya terdapat petal yang tebal dan rongga-rongga stigma, sisa rongga stigma ini tetap tinggal pada ujung buahnya. Buah berbentuk bulat atau agak pipih dan relatif kecil dengan diameter 3,5-8 cm. Berat buah bervariasi 75 – 150 g tergantung pada umur pohon dan daerah geografisnya. Kulit buah mengandung getah kuning yang terasa pahit.
Jika buah muda dilukai maka getah kuning akan menetes keluar. Kulit buah tebalnya 0,8–1 cm berwarna keungu-unguan biasanya mengandung cairan kekuning-kuningan yang rasanya pahit dan kulit buahnya mengandung tanin dan senyawa berbentuk kristal yang disebut mangostin. Pada buah yang matang struktur kulit yang keras merupakan pelindung yang sangat baik bagi daging buah yang lembut dan dapat dimakan serta memudahkan pengepakan dan pengangkutan.

Buah manggis mengandung 2–3 biji yang berkembang sempurna. Segmen-segmen umumnya berukuran tidak sama dan biasanya 1 –2 segmen besar yang mengandung biji. Daging buah yang mudah dipisahkan dari kulit buah terdiri dari sari buah, agak asam, rasanya enak dan sedikit beraroma. Biji-biji besar berbentuk pipih berwarna ungu gelap atau cokelat tertutup oleh serat lunak yang menyebar sampai kedalam daging buah.

Biji manggis merupakan biji apomik yang terbentuk dari sel-sel nuselus pada buah partenokarpi. Biji berwarna coklat dengan panjang 2 – 2,5 cm, lebar 1,5 – 2,0 cm dan tebalnya antara 0,7 – 1,2 cm. Biji diselimuti oleh aril yang berwarna putih, empuk dan mengandung sari buah dengan aril yang transfaran. Penampakan embrio tidak jelas mengenai lokasi plumula dan radikel, dari pemeriksaan menunjukkan kemungkinan adanya perluasan titik tumbuh di sepanjang biji. Berat biji bervariasi antara 0,1 – 2,2 gram dengan rata-rata 1,0 – 1,6 gram.***

Monday, May 2, 2016

LINDUNGI BURUNG HANTU DEMI KESEJAHTERAAN PETANI


Burung hantu adalah kelompok burung yang merupakan anggota ordo Strigiformes. Burung ini termasuk golongan burung buas (karnivora, pemakan daging) dan merupakan hewan malam (nokturnal). Seluruhnya, terdapat sekitar 222 spesies yang telah diketahui, yang menyebar di seluruh dunia kecuali Antartika, sebagian besar Greenland, dan beberapa pulau-pulau terpencil.
Di dunia barat, hewan ini dianggap simbol kebijaksanaan, tetapi di beberapa tempat di Indonesia dianggap pembawa pratanda maut, maka namanya Burung Hantu. Walau begitu tidak di semua tempat di Nusantara burung ini disebut sebagai burung hantu. Di Jawa misalnya, nama burung ini adalah darès atau manuk darès yang tidak ada konotasinya dengan maut atau hantu. Di Sulawesi Utara, burung hantu dikenal dengan nama Manguni.
Burung hantu dikenal karena matanya besar dan menghadap ke depan, tak seperti umumnya jenis burung lain yang matanya menghadap ke samping. Bersama paruh yang bengkok tajam seperti paruh elang dan susunan bulu di kepala yang membentuk lingkaran wajah, tampilan "wajah" burung hantu ini demikian mengesankan dan kadang-kadang menyeramkan. Apalagi leher burung ini demikian lentur sehingga wajahnya dapat berputar 180 derajat ke belakang.
Umumnya burung hantu berbulu burik, kecoklatan atau abu-abu dengan bercak-bercak hitam dan putih. Dipadukan dengan perilakunya yang kerap mematung dan tidak banyak bergerak, menjadikan burung ini tidak mudah kelihatan; begitu pun ketika tidur di siang hari di bawah lindungan daun-daun.
Ekor burung hantu umumnya pendek, namun sayapnya besar dan lebar. Rentang sayapnya mencapai sekitar tiga kali panjang tubuhnya.
Tyto Alba adalah salah satu jenis burung hantu yang memiliki kuku dan paruh yang tajam berbulu putih kecoklatan dengan bulu berlapis lilin, aktifitasnya pada malam hari (Nokturnal) dan makanan utamanya adalah tikus.
Nama lain Tyto alba : burung hantu muka monyet, burung hantu buas, burung hantu malam,burung hantu tikus, burung hantu pemekik, burung hantu jerami, burung hantu cantik serak jawa.

Manfaat Tyto Alba :
  •  Mempunyai kemampuan berburu sangat tinggi, tangkas cekatan dalam mengejar dn menyambar tikus.
  • Mampu memakan tikus 2-3 ekor dalam semalam namun sesungguhnya mampu membunuh tikus lebih dari yang dimakan ( 9-12 ekor)
  • Memiliki penglihatan dan pendengaran yang sangat tajam pada malam hari, sebab mempunyai sinar infra merah.
  • Mampu mendengar cicitan tikus dalam jarak 500 meter.
  • Kejelian dalam mengincar dan ketepan menyambar mangsa sangat tinggi.
  • Tyto alba mempunyai kawasan berburu yang tetap dan daya jelajahnya mampu mencapai 12 km dan sangat setia pada kandangnya.
  • Perkembangan tyto alba sangat cepat, jumlah telur 4 sampai 10 butir, lama pengeraman 21 sampai 28 hari. Periode bertelur 2 kali dalam setahun, anaknya akan memisahkan diri dari induknya pada umur 4-6 bulan.
  • Tyto alba mampu hidu lebih dari 5 tahun termasuk burung berumah satu, berpasangan namun tidak berkelompok.
  • Sepasang Tyto alba mampu mengamankan 5-10 ha sawah
Habitat Potensial
  • Kolong jembatan, pohon yang berlubang dengan diameter 20 cm, dan gedung-gedung lama  ( langit langit tinggi, atap terbuat dari genting atau asbes, gedung yang berada di tempat sepi, jarangdihuni dan terletak dekat dengan areal persawahan)